SENJA telah jatuh. Warna langit di barat Kampung Negariki telah berubah. Kuning keemasan yang tadinya terlihat cerah, berganti dominasi warna merah. Tapi, sejumlah anak lelaki telanjang dada itu masih juga tampak asyik bermain tembak-tembakan.
"Dor? Dor?Dor?!"
Pelepah daun pisang yang dijadikan senjata api laras panjang dibidikkan berulang-ulang. Yang kena tembak harus mati, kendati tak lama kemudian boleh hidup lagi. Ada yang tiarap. Ada yang bersembunyi. Ada yang berlari-lari.
Cerpen Muhidin M. Dahlan : Rajam
DI SIANG garang, di atas paha terbuka istrimu yang membelaimu lembut, kau melihat dari alam jauhmu sebuah kematian yang paling indah dan mencekam. Kematian seorang perempuan jalang.
Ya, seorang perempuan jalang, di lapangan kota, diseret digelandang dalam sebuah iring-iringan riuh. Mirip upacara keagamaan. Beduk-beduk, gending-gending, memekik memekakkan telinga. Ini bukan pasar atau ritual sunatan atau riuh mauludan saban tahun. Tapi riuh gending dan beduk ini adalah tabuh kematian. Sebentar lagi, sejelang lagi, akan tercetus kematian seorang perempuan jalang yang merobek-robek kesadaran beragamamu kelak di kemudian hari.
Ya, seorang perempuan jalang, di lapangan kota, diseret digelandang dalam sebuah iring-iringan riuh. Mirip upacara keagamaan. Beduk-beduk, gending-gending, memekik memekakkan telinga. Ini bukan pasar atau ritual sunatan atau riuh mauludan saban tahun. Tapi riuh gending dan beduk ini adalah tabuh kematian. Sebentar lagi, sejelang lagi, akan tercetus kematian seorang perempuan jalang yang merobek-robek kesadaran beragamamu kelak di kemudian hari.
Cerpen Putu Wijaya : MOKSA
Telepon berdering di kamar praktik dokter Subianto. Dokter yang sedang menyanyi-nyanyi sambil memeriksa pasiennya itu, mengangkat telepon.
"Hallo, ini pasti kamu Moksa!"
"Bener, Pak."
"Kamu kan janji mau pulang. Jam begini kamu kok belum datang?"
"Moksa tidak jadi pulang."
"Lho, kenapa? Kamu bilang kamu butuh duit untuk beli kado buat teman baik kamu itu."
"Hallo, ini pasti kamu Moksa!"
"Bener, Pak."
"Kamu kan janji mau pulang. Jam begini kamu kok belum datang?"
"Moksa tidak jadi pulang."
"Lho, kenapa? Kamu bilang kamu butuh duit untuk beli kado buat teman baik kamu itu."
Cerpen Ratna Indraswari Ibrahim : Pada Suatu Hari
Wawancara yang dimohon wartawati baru itu, oleh Presiden dikabulkan. Padahal, Annisa baru sepuluh bulan bekerja sebagai wartawati di media ini. (Kabar itu membengkakkan rasa cemburu rekan-rekannya, yang lebih senior). Lagi pula, semua orang tahu, yang mulia Presiden tidak mudah diwawancarai!
Cerpen Guy de Maupassant : Cahaya Bulan
Madame Julie Roubere tengah menanti kedatangan kakak perempuannya, Madame Henriette Letore, yang baru saja kembali dari perjalanan ke Negeri Swiss.
Seluruh keluarga Lotere melancong semenjak lima minggu lalu. Madame Henriette mengizinkan suaminya pulang sendirian ke kampung halamannya di Calvados, karena ada beberapa urusan bisnis yang harus diselesaikan, dan menghabiskan beberapa malam di Paris bersama kakaknya. Malam berlalu. Dalam keheningan yang senyap, Madame Roubere asyik membaca dengan pikiran kosong, sesekali menaikkan alis matanya setiap kali mendengar suara.
Seluruh keluarga Lotere melancong semenjak lima minggu lalu. Madame Henriette mengizinkan suaminya pulang sendirian ke kampung halamannya di Calvados, karena ada beberapa urusan bisnis yang harus diselesaikan, dan menghabiskan beberapa malam di Paris bersama kakaknya. Malam berlalu. Dalam keheningan yang senyap, Madame Roubere asyik membaca dengan pikiran kosong, sesekali menaikkan alis matanya setiap kali mendengar suara.
Subscribe to:
Posts (Atom)